Prajurit Kristus
Teks : 2 Timotius 2:1-7
Surat 2 Timotius ini adalah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus ketika dia berada di dalam penjara di Roma. Surat ini ditujukan kepada anak rohaninya Timotius untuk terus bergiat dalam pekerjaan Tuhan, secara khusus utk menguatkan TImoutius dan mendorongnya utk terus mengabarkan Injil sekalipun mengalami penderitaan. Tidak malu utk menjadi saksi, menjadi pemberita Injil.
Secara khusus dalam pasal 2 yg kita baca ini ayat 1-7, Paulus mengingatkan Timoutius untuk menjadi pemberita Injil yang siap utk menderita. Dalam suratnya kpd jemaat di Filipi jg Paulus mengatakan bahwa kita bukan saja dikaruniakan untuk percaya Kristus tetapi juga untuk menderita untuk Kristus. Secara khusus dalam pasal 2 ini Paulus menguatkan TImotius utk tetap kuat dan setia dalam memberitakan Injil sekalipun akan menghadapi penderitaan. Ada 3 contoh yang Paulus pakai di sini, yakni seorang prajurit, olahragawan dan petani, namun yg akan kita lihat dan kita renungkan adalah mengenai seorang Prajurit.
3 hal yang akan kita pelajari dari menjadi prajurit Kristus:
1. Menjadi Prajurit Kristus adalah kasih karunia Allah. (1:9)
Dalam Pasal 1, dalam nasihatnya bagi Timotius utk bertekun dalam penderitaan oleh karena Injil Kristus, paulus katakan dalam ayat 9, bahwa Tuhan telah menyelamatkan dan memanggil Paulus bahkan jg Timotius bukan berdasarkan pada perbuatan baik mereka tetapi karena kasih dan karunia-Nya bagi mereka. Bahkan kita semua yang ada di sini, Allah menyelamtkan kita dan memanggil kita oleh karena kasih karuniaNya bagi kita. Oleh sebab itu, menjadi prajurit Kristus adalah suatu kebanggaan.
2. Prajurit harus siap menderita (3a) dan fokus pada tugas yang diberikan
Menjadi seorang prajurit bukanlah tugas yang mudah dan ada dalam kondisi santai atau menyenangkan. Seorang prajurit mulai dari persiapan hingga menjadi seorang prajurit yg mengemban tugas seringkali diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang berat bahkan terkadang menyakitkan. seorang prajurit juga harus mengesampingkan haknya dan kenyamanannya, tugas yang diberikan komandan atau pimpinannya harus diselesaikan. Apapun tantangannya seorang prajurit Kristus pun harus siap menderita demi tugas sang komandan dapat ditunaikan yaitu memberitakan injil Kristus sampai kepada segala bangsa. Seorang Prajurit kristus harus siap menderita demi Injil, demi penggenapan Amanat Agung. Menderita di sini bukan selalu berarti seperti dianaiaya yang menyakitkan tubuh secara fisik, tetapi juga hal-hal yang yang mungkin tidak menyenangkan bagi kita untuk kita lakukan. Beberapa waktu yang lalu saat saya melakukan survey pertama kali di srilanka, saya harus berjalan mencari rekanan gereja dari satu tempat ke tempat yang lain, saya ditolak, diusir dan tidak diijinkan bertemu dengan pendeta. Atau ketika kita mengorbankan kenyamanan atau hak kita agar injil diberitakan, mengambil lebih banyak waktu untuk berdoa bagi STA dan misionaris, memberi uang yang kita miliki untuk mendukung pekerjaan misi, dan lain sebagainya.
3. Prajurit harus taat pada komandan.
Seorang prajurit yang terlatih baik wajib tunduk sepenuhnya kepada komandannya, meski membahayakan nyawanya sekalipun. Prajurit yang baik haruslah mampu mengabaikan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih besar. Dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan total kepada komandannya dan kesiapan untuk berkorban. Yesus sendiri telah memberikan keteladanan bagaimana sosok prajurit yang ideal. “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:7-8). Ini gambaran ketaatan penuh yang langsung diperagakan secara nyata oleh Kristus sendiri.
Kiranya kita menjadi prajurit-prajurit Kristus yang militan dan fokus pada Amanat Agung yang diberikan-Nya. Prajurit-prajurit Kristus yang siap dan rela menderita demi melihat suku-suku bangsa yang terabaikan mengenal Komandan Agung kita, Yesus Kristus.